Coba Senyum
Adalah kamu,
Seorang yang selalu kuceritakan pada mereka, walau pastinya mereka bosan mendengar cerita yang selalu sama.
Mau bagaimana lagi?
Soalnya aku berada pada pihak yang kurang menguntungkan.
Diantara dua orang yang saling melupakan, akan ada salah satu yang berpura-pura.
Dan kurasa, yang berpura-pura adalah aku. Sadar saja, rindu itu tak perlu umpan balik. Biar sakit, mesti ditanggung sendiri. Dan akhir-akhir ini aku hanya berdoa agar hatiku berubah jadi tameng, biar tak terlalu sakit jika tersayat-sayat.
Terbukti, masa mu untuk datang lagi mungkin saat ini.
Setelah ketebalan tamengku mencapai titik puncak, kamu malah tampak berseliweran dipelupuk mataku. Bukannya aneh, tapi kesannya keadaan malah mempermainkanku. Mengikis tameng yang susah payah kubangun sendiri, sampai-sampai kedua tanganku melepuh.
Bukankah itu sebuah tabiat yang baik?
Aku tak mengira kamu kembali secepat ini. Saat aku telah tak mau menantimu lagi.
Tapi, kadang cara umpan balik sesuatu memang begini. Suka kembali ketika rumahnya sudah dihuni.
Mau bagaimana lagi jika sudah begini?
Digio,
Dari awal, cara kerja kita memang sudah tak searah. Sudah dewasa ini aku sadar, tak perlu lagi meluruskan jalanmu untuk mengiringi jalanku. Sulit. Keyakinanmu sangat sulit kuruntuhkan. Bahkan sempat kuceritakan, bahwa sampai terseot-seot aku menarik simpul agar jalanmu tetap bersitatap, tentunya bersamaku. Namun, sekarang.., kurasa aku tak punya kuasa.
Menarikmu ke jalanku ternyata bukan kuasaku.
Tapi, berpindah dan menunggu yang lain mungkin sudah jalanku.
Coba senyum,
Digio.
Coba senyum lagi.

Komentar