Teka-Teki
Sakit itu biasa, dia ada ketika melakukan perjalanan. Dia akan senantiasa mengikuti walau kemanapun arah berjalan. Anehnya, meski dia itu kecil, tapi nyusahin. Susah. Kalau nggak diobati nanti tambah sakit, tapi kalau diobati, nanti disakiti lagi, 'kan bingung.
Kasihan, soalnya nyembuhin sesuatu yang luka itu memakan waktu yang lama.
Maaf, kalau menurutmu aku bertele-tele, bilangnya sudah melupakanmu dan telah membangun tameng yang sempurna, tapi nyatanya malah radarku nggak mau berhenti mengelilingimu. Simpul yang pernah kau ikat ternyata sangat kuat hingga aku nggak pernah bisa membukanya sendiri.
Kini, aku sudah nggak mampu lagi untuk mendaki lebih tinggi, tubuhku ringkih seperti tumpukan jerami. Bahkan, ingin berjalan turun saja sudah nggak mampu, akhirnya kubiarkan.
Kuputuskan akan tetap menyayangimu seadanya dan sebisa batas yang aku mampu. Sekedar punya masalalu bersama, ternyata berisiko besar untuk melanjutkan hidup bersama.
Sayangnya, kamu sangat bimbang.
Kamu tetap memandangku dengan tatapan kepada gadis mungil yang nggak menarik.
Jika aku sepenuhnya pergi, aku takut kamu lupa menyimpan miliaran waktu yang mengantar kita ke jalan panjang ini, jalan yang kita pijak saat ini.
Aku takut kamu meninggalkannya disembarang tempat. Maka, kusanggupkan untuk menjadi juru kunci waktu miliaran itu, walau sendiri.
Aku tahu jika lingkunganmu kini berbeda, menjalankan kehidupan yang jauh dari masa kecil memang sangat menguras tenaga, aku tahu sulitnya beradaptasi dengan keadaan yang jauh dari jangkauan, percaya aja, waktu pasti perlahan mengajarkan.
Jadi, kamu nggak perlu lagi merasa sulit mengantongi miliaran waktu dan akan menyimpannya dimana, serahkan saja padaku dan kembalilah fokus menjangkau apapun yang kau bisa.
Nanti, jika ingin pulang, pulang saja.
.
.
.
Nb : Surat Ini Ditulis Bukan Untuk Memperburuk Keadaan.

Komentar