Sekantung Kata Berbentuk Anda
Sekantung Kata Berbentuk Anda
Tiba-tiba sebuah mainan lama mencuat dari sela-sela buku kusam tertumpuk debu.
Mengulik kisah mungil kita yang masih belum mengerti apa-apa, kisah itu menguap kepermukaan dan menggandeng ingatan lama yang telah tercantel rapi dalam barisan kata dan peristiwa.
Kamu memang salah satu alasan mengapa aku jadi seseorang yang kuat tanpa pernah mengulang sesakit apa ketika kamu memotong cerita ditengah jalan begitu saja.
Kita ngga se frekuensi.
Tapi, jujur. Kamu adalah rahasia yang aku bungkam sangat rapat dan hati-hati, hanya ingin ku ceritakan pada Tuhan ku saja.
Kamu itu, bentuk manusia aneh, yang nggak pernah tahu seberapa keras suaraku untuk mendoakanmu sampai amandelku berdarah. Hehehe.
Gapapa, aku nggak pernah mempermasalahkan kalaupun begitu.
Andai, aku nggak pernah ketemu denganmu, andai aku nggak miliki rasa ini sendiri, andai aku bisa mengartikan sebuah kata demi kata, mungkin nggak akan lahir sebuah sejarah keren yang berjejer dalam waktuku ini. Maka untuk itu, aku berterimakasih padamu.
Aku ini manusia, meskipun tahan banting, namun percayalah bahwa aku pernah terjebak dalam masa lalu yang sampai saat ini membuatku capek. Seolah cerita yang terkisah bersamamu memang nggak pernah jadi masa depan baik untukku.
Dan,
Sekantung kata Berbentuk Canda. Bukan lagi Anda.
Masa muda bukanlah untuk bercanda.
Menumpahkan tinta ke hati manusia tanpa aba-aba, itu mungkin yang dinamakan bercanda.
Maka aku mohon, sudahilah bercanda denganku, bercandamu mungkin lucu. Tapi bagiku itu seperti mengelabuhi kehidupanku. Hey, kehidupanku ini cuma satu, kalau sampai kamu mempermainkannya, terus aku harus apa?
Aku memohon lagi, bila nggak ingin disini, jangan bercanda lagi, biarkanlah diriku cari tempat istirahat sejenak. Aku berharap bisa membawa keluar wajahmu yang tertumpuk dalam kepalaku.
Sepertinya aku butuh tertawa, itu bisa membantu emosiku membaik. Soalnya, sejak denganmu emosiku sangat labil. Menekan amarah, kecewa, senang, dan rasa-rasa yang lain tanpa rasa ampun.
Sudah iya,
Sampai sini dulu.
Aku butuh bicara dengan diriku.

Komentar