Tak Perlu Jadi Manusia

Terbentang yang namanya
rasa, kusebut itu anda


Masih ingatkah kamu ketika melihat laut lepas bersamaku?
Iya, sebuah waktu unik yang tercipta begitu saja. Lalu, ingatkah pula tentang pasir yang menempel pada kaosmu?

Setidaknya, tak perlu menjadi manusia untuk memahami ini, cukup punya hati lalu menyadari.
Tak perlu menjadi manusia untuk mengetahui tumpukan kenangan aneh itu.

Jangan.
Jangan menyambut aku dengan tawa renyah itu lagi, sudah kubilang, 'kan?
Nasibku akan sama seperti dulu, suka mengukir tawamu dimana-mana.
Sungguh, aku tak pernah merasa kesal ketika kamu lenyap dengan tawa, menggulung langkah bersama deburan ombak yang berjejak.
Dapatkah aku mengiringi langkahmu lagi?, ah.., kurasa anganku berbuah halusinasi.

Dapatkah aku membalas tawamu lagi?, tapi.., kurasa tawamu sudah menguap.

Jujur aja, kamu hadir sebagai tema. Setiap tulisanku muter-muter aja tentangmu. Kesal, karena sulit menumpuk tawa-tawamu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini