Apa Ya?




Kurasa aku ingin menyudahi ini. Menutup kisah unik bersamaku memang pilihanmu, tapi mengulik kisah apik selanjutnya adalah bagianku.


Sudahlah, berkali-kali telah kamu katakan tak mampu kembali. Dan aku agaknya juga mulai jengah dengan keadaan yang nampak sedikit banyak melukai kita berdua, itu sangat menyakitkan.


Tak sekalipun aku menyesal, melukai kaki sendiri untuk menata semua hal yang telah lapuk tak akan aku lakukan lagi. Mungkin dengan yang ada saat ini adalah hal yang patut aku syukuri. Menimbang hal yang telah kamu beri, aku mohon maaf telah lancang mengganti.


Benar kata Pak Sapardi,

Mencintai gunung harus menjadi terjal. Kamu itu gunung, dan aku.., aku tak mau menjadi terjal. Aku akan memilih jadi jalan lurusmu saja, jika itu ada dalam pilihan.


Tunggu, bisakah posisi kita dibalik. Aku yang jadi gunung, sementara kamu yang jadi terjal. Mungkin dalam konteks lain, kamu bukan terjal, tapi kamu berwujud lika-liku.


Tapi, apakah bisa jika..,


Aku menjadi gunung, dan kamu juga berwujud gunung. Yang ada di pikiranku adalah kita bisa sama-sama menatap hal yang indah terus menerus. Bukankah itu mengasyikan?

Atau malah, kita menjelma layaknya terjal.


Sudah-sudah.


Apa yang sedang aku bicarakan. Kenapa selalu muter-muter aja di kamu?, hahaha.


Otakku akan kusetel ulang. Membicarakan masa depan denganmu takkan muncul pengakhiran. Maka, kuputuskan.., mencari hal lain yang lebih bisa diajak berkawan.


Aku selalu berdoa untuk raga lain yang akan menemui ku kelak, sempatkanlah mengirimkan tawa renyah untuk mengisi kekosongan tawaku yang lain. Tawa yang kamu punya, ternyata belum cukup mengisi sisa ruang yang menganga itu. Yah, mungkin hanya sedikit.


Untuk kamu, seorang yang berjiwa tawa renyah itu. Aku telah melewatimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini