Aku Sebuah Gawai
Sebuah pesan tertangkap oleh gawaiku. Menampilkan namamu yang benar-benar sangat kutunggu. Apa yang aku lakukan?, ah, bodohnya aku tak segera membuka pesan itu, kuulur waktu agar rasa senang yang menyeruak jauh entah diposisi mana ini sedikit lama kegirangan. Yang pasti kamu telah diterima dengan baik dalam setiap sudut jangkauan kebisaanku.
Semesta memang mengandung banyak teka-teki, membantumu untuk mengatakan hal besar ini padaku.
"aku pamit, lain kali aku bakal sering-sering main kesini lagi, makasih," 45 menit baru kubuka pesan itu, pesan singkat yang rupanya sangat menyayat hatiku. Mengoyaknya tanpa ampun. Ibaratnya kaya, jari kelingking yang terjatuhi 5 piring beling. Kaget campur sakit.
Andai aku bisa melupakan pesan itu, namun sayangnya semuanya masih mendekam jauh dalam ubun-ubun, rupanya barisan pesan yang telah kamu ketikkan itu terasa nyata menari-nari didalam sana. Memang otakku sangat sulit dikomando kalau sudah berhubungan denganmu, dia bandel. Anehnya, kau itu punya kekuatan yang bisa mengomando otakku, dan kalau sudah begitu, iyaaa.., tameng yang kubuat akan jebol.
Sebelumnya, entah ada angin dari mana kamu berkali-kali menemuiku, mengajakku kesana-sini tanpa berpikir dua kali. Tahukah kamu?, aku sangat senang. Soalnya, sang pengomando otakku mengajakku jalan, memainkan gitar untukku, joget dengan tempo energik yang membuatkan menyulam tawa berkali-kali. Namun, rupanya, kamu ingin membuat kesan baik sebelum kamu mengejar impian besarmu. Dan, aku, pastilah aku akan mendoakanmu dengan doa yang terbaik.
Satu hal yang seharusnya kau tahu setelah itu, akulah yang paling merasa terbahagiakan olehmu, hanya aku.
Duniaku seolah langsung oleng mengingat tawamu yang selalu renyah.
Setelah ini, aku mau mengucapkan banyak terimakasih. meski pindah rumahmu mengagetkanku, tapi setidaknya beberapa hari sebelumnya, kebahagiaanku telah tumpah ruah disana.
05 Mei 2021

Komentar