Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021
Gambar
  Apa Ya? Kurasa aku ingin menyudahi ini. Menutup kisah unik bersamaku memang pilihanmu, tapi mengulik kisah apik selanjutnya adalah bagianku. Sudahlah, berkali-kali telah kamu katakan tak mampu kembali. Dan aku agaknya juga mulai jengah dengan keadaan yang nampak sedikit banyak melukai kita berdua, itu sangat menyakitkan. Tak sekalipun aku menyesal, melukai kaki sendiri untuk menata semua hal yang telah lapuk tak akan aku lakukan lagi. Mungkin dengan yang ada saat ini adalah hal yang patut aku syukuri. Menimbang hal yang telah kamu beri, aku mohon maaf telah lancang mengganti. Benar kata Pak Sapardi, Mencintai gunung harus menjadi terjal. Kamu itu gunung, dan aku.., aku tak mau menjadi terjal. Aku akan memilih jadi jalan lurusmu saja, jika itu ada dalam pilihan. Tunggu, bisakah posisi kita dibalik. Aku yang jadi gunung, sementara kamu yang jadi terjal. Mungkin dalam konteks lain, kamu bukan terjal, tapi kamu berwujud lika-liku. Tapi, apakah bisa jika.., Aku menjadi gunung, dan kam...
Gambar
Tak Perlu Jadi Manusia Terbentang yang namanya rasa, kusebut itu anda Masih ingatkah kamu ketika melihat laut lepas bersamaku? Iya, sebuah waktu unik yang tercipta begitu saja. Lalu, ingatkah pula tentang pasir yang menempel pada kaosmu? Setidaknya, tak perlu menjadi manusia untuk memahami ini, cukup punya hati lalu menyadari. Tak perlu menjadi manusia untuk mengetahui tumpukan kenangan aneh itu. Jangan. Jangan menyambut aku dengan tawa renyah itu lagi, sudah kubilang, 'kan? Nasibku akan sama seperti dulu, suka mengukir tawamu dimana-mana. Sungguh, aku tak pernah merasa kesal ketika kamu lenyap dengan tawa, menggulung langkah bersama deburan ombak yang berjejak. Dapatkah aku mengiringi langkahmu lagi?, ah.., kurasa anganku berbuah halusinasi. Dapatkah aku membalas tawamu lagi?, tapi.., kurasa tawamu sudah menguap. Jujur aja, kamu hadir sebagai tema. Setiap tulisanku muter-muter aja tentangmu. Kesal, karena sulit menumpuk tawa-tawamu.
Gambar
Sebuah Benda Yang Tertinggal Dirumah Sebuah Benda Yang Bernama Hati Beberapa hari setalah kamu pergi kemarin, ternyata dugaanku benar. Sangat sulit untuk melupakanku, 'kan?. Nyatanya kamu masih balik lagi kesini, kerumah ini. Hahaha, aku jadi merasa menang. Akulah orang yang selalu menjadi arah radarmu. bukankah aku benar? Iya, aku sangat benar. Aku hanya mencoba percaya pada Tuhan, percaya pada keyakinan dan kemantaban hati. Mana mungkin aku tak mengandalkan hati kalau setiap saat ia selalu kubawa kemana-mana. Dan, sepertinya aku akan selalu begini. Menyalakan hati agar selalu disampingmu. satu detik. dua detik, tiga detik, aku ingin selalu begini. Tunggu, apakah kamu kembali hanya untuk mengambil hal yang tersisa dari semuanya?, kemarin? Astaga, kenapa aku bisa sesombong tadi seolah kamu mau kembali? Aku benar-benar tersentak atas pikiranku itu. Tak mau menyangkal juga, meskipun keyakinanku sangat besar, tapi sorot matamu sudah tak sama. Baru beberapa hari kamu tak disini lalu so...
Gambar
Aku Sebuah Gawai Gawai adalah aku Sebuah pesan tertangkap oleh gawaiku. Menampilkan namamu yang benar-benar sangat kutunggu. Apa yang aku lakukan?, ah, bodohnya aku tak segera membuka pesan itu, kuulur waktu agar rasa senang yang menyeruak jauh entah diposisi mana ini sedikit lama kegirangan. Yang pasti kamu telah diterima dengan baik dalam setiap sudut jangkauan kebisaanku. Semesta memang mengandung banyak teka-teki, membantumu untuk mengatakan hal besar ini padaku. "aku pamit, lain kali aku bakal sering-sering main kesini lagi, makasih," 45 menit baru kubuka pesan itu, pesan singkat yang rupanya sangat menyayat hatiku. Mengoyaknya tanpa ampun. Ibaratnya kaya, jari kelingking yang terjatuhi 5 piring beling. Kaget campur sakit. Andai aku bisa melupakan pesan itu, namun sayangnya semuanya masih mendekam jauh dalam ubun-ubun, rupanya barisan pesan yang telah kamu ketikkan itu terasa nyata menari-nari didalam sana. Memang otakku sangat sulit dikomando kalau sudah berhubungan den...